Virus adalah satu set dari satu atau lebih molekul genom berupa molekul DNA atau RNA, biasanya dibungkus oleh selubung pengaman berupa protein selubung (coat protein) atau lipoprotein dan hanya dapat memperbanyak diri dalam sel inang yang sesuai dengan memanfaatkan metabolisme, materi, dan energi dari sel inang (Matthews 1992).

Virus dapat menginfeksi inangnya melalui luka kecil pada tanaman. Setelah virus ini bereplikasi dan memperbanyak diri, tampaklah gejala-gejala penyakit pada tanaman seperti daun menguning, pertumbuhan terganggu, timbul bercak-bercak pada daun dan lainnya.

Tanaman yang terserang virus menunjukkan adanya perubahan bentuk atau morfologi tanaman dan nekrosis (kerusakan jaringan. Keadaan fisiologis tanaman juga terganggu seperti berkurangnya kegiatan fotosintesa, kecepatan respirasi bertambah, terjadinya akumulasi senyawa nitrogen seperti senyawa amida, dan penurunan akti-vitas zat pengatur pertumbuhan dan sebagainya. Gejala penyakit yang tampak  terjadi pada daun, dengan berbagai tipe gejala penyakit tergantung dari macam virus yang menyerang dan tanaman inangnya. Gejala penyakit yang umum dari infeksi virus ialah terhambatnya pertumbuhan yang mengakibatkan menurunnya hasil dan tanaman lebih cepat mati. Gejala penyakit yang ditimbulkannya dapat sangat berat atau sangat ringan,biasanya terdapat pada daun yang masih muda sehingga tidak tampak jelas. Gejala yang paling jelas biasanya terdapat pada daun seperti timbulnya mozaik. Tetapi ada sejumlah virus yang dapat menimbulkan gejala penyakit pada batang, buah, akar dan sebagainya tapi tidak terlihat pada daun.

Kebanyakan penyakit virus tanaman bersifat sistematik dan virus yang menjadi penyebab terdapat diseluruh bagian tanaman. Gejala yang ditimbulkannya disebut gejala sistemik. Tetapi untuk virus tertentu dan pada tanaman tertentu, gejala serangnya bersifat lokal dengan timbulnya gejala nekrosa(kerusakan jaringan pada bagian tanaman tertentu) ditempat terjadinya infeksi oleh virus. Gejala semacam ini disebut gejala lesio lokal.Gejala lain  akibat terserang virus pada tanaman adalah daun menguning, bercak bercincin atau bergaris, penghambatan pertunbuhan, kerdil, daun menggulung, mengkerut atau berubah seperti tali sepatu, nekrosis, percabangan berbentuk sapu dan sebagainya.

Pada praktikum ini ditunjukan beberapa jenis tanaman yang sudah terserang virus sesuai inangnya.Tanaman yang diidentifikasi adalah tanaman tembakau, tanaman babadotan, tanaman cabai, daun pisang, tanaman pisang, tanaman kacang tanah, tanaman kacang panjang,dan  daun padi.Semua tanaman tersebut terlihat memiliki gejala infeksi yang berbeda sesuai jenis virus yang menginfeksinya.Hal-hal yang diidentifikasi dari tanaman yang sudah ter
infeksi virus seperti warna daun, bentuk daun(bagian ujung), ukuran (menjadi lebih lebar atau sempit), dan bentuk permukaan daun (rata, bergelombang).

Virus TMV (Tobacco Mosaic Virus) menyerang tanaman tembakau yang dapat ditularkan secara mekanis atau melalui benih.Virus ini belum diketahui dapat ditularkan melalui vector (serangga penular).Virus ini bersifat infektif selama beberapa tahun, sangat stabil dan mudah ditularkan dari benih ke pembibitan pada saat pengelolaan tanaman secara mekanis.Gejala yang ditimbulkan akibat infeksi berupa mosaik yaitu daun tanaman yang terserang  berwarna belanh hijau muda sampai hijau tua.Ukuran daun menjadi lebih kecil dibandingkan dengan ukuran daun normal.Jika virus menyerang tanaman muda , pertumbuhan tanaman akan terhambat dan akhirnya menjadi kerdil.Gejala yang timbul sangat dipengaruhi oleh suhu, penyinaran, umur tanaman, varietas tanaman, dan strain virus.Secara umum gejala yang timbul dikempokan menjadi:1. Gejala mosaic dan mottle pada daun biasanya berwarna pucat atau kekuning-kuningan yang menyebar berupa percikan,2. Gejala klorosis berupa warna pucat , baik menyeluruh maupun bercak saja,3. Gejala vein-clearing: warna pucatpada urat daun sehingga kelihatan transparan dan berkilau diantara warna daun yang hijau,4. Gejala nekrosis : matinya suatu jaringan, biasanya terjadi pada urat daun, batang berupa garis-gari coklat, bercakk pada daun atau bercak cekung nekrosis.

Peanut Mottle Virus (PMoV) menyerang tanaman kacan tanah.Gejala yang sering dijumpai di lapangan adalah gejala belang berwama hijau tua dikelilingi daerah yang lebih terang atau hijau kekuning-kuningan. Pada umumnya gejala awal pada daun muda terluhat adanya bintik- bintik klorotik yang selanjutnya berkembang menjadi belang-belang melingkar. Pada daun tua berwarna hijau kekuningan dengan belang-belang berwarna hijau tua. Pertumbuhan tanaman yang terinfeksi menjadi terhambat sehingga tanaman menjadi pendek dibandingkan tanaman sehat terutama apabila terinfeksi pada saat tanaman muda. Penyimpangan anatomi juga terdapat pada lembaga biji tanaman sakit.Peanut Mosaik Virus (PMV) juga sama-sama menyerang tanaman kacang tanah.Gejala infeksi berupa mosaik yaitu timbulnya bercak-bercak pada daun.Pada daun tanaman warnanya menjadi pucat dari hijau muda menjadi hijau tua.Pada tanaman yang masih muda infeksi dapat mengganggu pertumbuhan karena terjadi pemendekan daun atau ruas sehingga menyebabkan kekerdilan.

Babadotan (Ageratum conycoides) merupakan tumbuhan yang termasuk gulma pada tanamam budidaya.Namun tanaman ini juga dapat terinfeksi oleh virus yang menggunakannya sebagai inang.Penyakitnya biasa disebut dengan penyakit kuning yang disebabkan oleh virus gemiini atau dari family Geminiviridae.Gejala yang ditimbulkan berupa warna kuning dimulai dari tulang daun kemudian lamina daun baru terserang.

Penyakit kuning pada tanaman cabai disebabkan oleh virus Tomato yellow leaf curl Virus (TYLCV).Penyakit ini biasa disebut Bule.Perantara(vektor) penyakit ini adalah serangga yaitu kutu putih atau kutu kebul (Bemisia tabaci)  secara persisten yang berarti selama hidupnya virus terkandung di dalam tubuh kutu tersebut.Virus ini tidak ditularkan lewat biji dan juga tidak ditularkan lewat kontak langsung antar tanaman. Tanamn cabai yang terserang virus ini menunjukkan gejala seperti daun menguning,cerah,pucat,terjadi klorosis pada anak tulang daun dari  daun muda dan menyebar keseluruh bagian tanaman, hingga tampak menguning.Daun mengeriting ke atas, menebal dengan ukuran mengecil,bunga rontok, tanaman tinggal ranting dan batang saja,pertumbuhan terhambat atau kerdil.Penyakit kuning cabai di Indonesia di sebabkan oleh virus dari genus Begomovirus (Bean golden mosaic virus) ,family Geminiviridae yang di cirikan bentuk partikel kembar berpasangan (geminet) dengan ukuran sekitar 30-20 nm.

Virus Cowpea little leaf virus menyerang tanaman kacang panjang.Penyakitnya berupa daun-daun tanaman yang mengecil.Gejala yang ditimbulkan akibat serangan seperti, pada tiap-tiap ruas tumbuh tunas-tunas (yang seharusnya dorman) tetapi karena adanya hormone perangsang yang telah dikendalikan virus maka tunas –tunas tersebut tumbuh secara bebas dan tidak teratur.Virus mosaik pada kacang panjang (Cowpea aphid-borne mosaic virus) atau virus CoMV.Virus ini menyebabkan timbulnya mosaik pada daun, daun tanaman asimetris karena perkembangan yang tidak merata, permukaan daun mengalami penglepuhan.Penyebab penyakit mosaic ini merupakan virus yang ditularkan melalui perantara aphid (Aphis craccivora Kock) atau kutu daun.Tanaman yang terserang berat akan menghasilkan daun –daun berwarna kekuningan, kerdil, mengalami malformasi, dan kehilangan vigor.Semakin banyak aphid menyerang tanaman, daun, dan pucuk sulur semakin banyak yang rusak dan akhirnya mati.

Penyakit Bunchy Top merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Banana bunchy top virus (BBTV) yang paling penting pada tanaman pisang.Kebanyakan kultivar-kultivar local yang tumbuh terserang dengan tingkat intensitas yang bervariasi.Kultivar yang terinfeksi di antaranya adalah Mull, Raja, Kepok, dan Ambon.Berdasarkan uji ELISA diketahui bahwa virus ini merupakan penyebab penyakit dan menunjang kerentanan terhadap serangan penyakit lain.Gejala yang terlihat pada tanaman yang sudah terrinfeksi virus menunjukan cirri fisik yang sangat kontras dibandingkan dengan tanaman yang normal.Warna pada tepian daun menguning atau terjadi klorosis, ukuran daun mengecil, bentuknya menyempit dan ujung daun meruncing.Pelepah daun mengumpul keatas dan tanaman mengkerdil.

Serangan penyakit tungro pada tanaman padi disebabkan oleh virus yaitu Mild Mosaic Virus. Penyebaran serangan penyakit ini sangat cepat karena dibantu oleh vektor  (serangga penular) yaitu wereng hijau (Nephotettix virescens dan N. nigropictus).Gejala serangan awal di lahan biasanya khas dan menyebar secara acak. Daun  padi yang terserang virus tungro mula-mula berwarna kuning oranye dimulai dari ujung-ujung, kemudian lama-kelamaan berkembang ke bagian bawah dan tampak bintik-bintik karat berwarna hitam.  Bila keadaan ini dibiarkan jumlah anakan padi akan mengalami pengurangan, tanaman menjadi kerdil, malai yang terbentuk lebih pendek dari malai normal ,selain itu banyak malai yang tidak berisi (hampa) sehingga tidak bisa menghasilkan bulir padi.

Virus lain yang dapat ,menyerang tanaman pisang yaitu Banana streak virus (BSV).Virus ini  juga tidak kalah penting dan berbahaya pada tanaman pisang.Gejala yang terlihat pada tanaman terinfessi seperti: daun tanaman yang menunjukan gejala bercak garis berwarna kuning atau terjadinya klorosis sejajar ke arah tulang daun semu.Gejala ini mudah terlihat pada daun kedua termuda.Gejala lain yang timbul dapat berupa garis nekrosis,mosaik, atau malformasi.Virus streak ini ternyata juga dapat ditularkan melalui vector serangga yaitu kutu putih.Dari penelitian yang telah dilakukan pada laboratorium virologi tumbuhan Departemen Proteksi Tanaman,Faperta, IPB, diketahui bahwa kutu putih yang digunakan pada penelitian yaitu Planococcus citri Risso (Homoptera:Pseudococcidae) ,setelah diinokulasi semua tanaman memperlihatkan gejala penyakit yang khas berupa bercak garis.

  1. Penyakit Bulai Jagung

Penyakit bulai disebabkan oleh patogen Sclerospora maydis . Penyakit bulai atau embun bulu (downy mildew) pada jagung sejak lama dirasa menimbulkan kerugian yang cukup besar, sehingga banyak dikenal diantara petani. Penyakit mempunyai banyak nama setempat, antara lain di Jawa Tengah dikenal dengan nama “omo putih”, “omo lando ” dan “omo bule”; di Jawa Timur “omo putih” dan “omo potehen”; sedang di Jawa barat “hama liyer”.

Penyakit bulai mulai mendapat perhatian tahun 1892 dan 1893, tatkala dari Ungaran, Jawa Tengah, dikirimkan tanaman jagung sakit ke Kebun Raya Bogor untuk diteliti, dengan perantaraan Departemen Dalam Negeri pada waktu itu (Rutgers,1961). Publikasi tentang penyakit ini pertama kali ditulis oleh Raciborski (1897). Selanjutnya Raciborski (1990) menulis bahwa penyakit juga sangat merugikan di Yogyakarta dan Surakarta (Vorstenland) dan Jawa Timur.

Penyakit bulai selalu ditulis dalam laporan tahunan mengenai “Hama dan Penyakit pada Tanaman Pertanian” yang terbit antara tahun 1914 sampai tahun 1936. Selain di Jawa dan Madura penyakit ini pernah dilaporkan dari Aceh, Sumatera Utara, Palembang, Kalimantan Barat, Bali, Lombok, Sulawesi Selatan , Minahasa, Tidore, Ternate, Ambon, Flores daTimor.

Meskipun sudah lama terdapat di Palembang, namun penyakit baru ditemukan di Lampung pada akhir tahun 1973, pada propinsi ini sedang dikembangkan menjadi daerah jagung. Pada waktu itu diusahakan untuk mencabut semua tanaman yang sakit secara serempak agar Lampung kembali bersih dari penyakit bulai. Usaha ini dianggap kurang berhasil karena ada petani (meskipun sedikit) yang berkeberatan untuk mencabut tanaman yang sakit.

Kerugian karena penyakit bulai sangat bervariasi setempat-setempat. Petak-petak tertentu dapat mendapat kerugian 90%, sehingga penyakit ini menyebabkan penanaman jagung mengandung resiko yang tinggi. Namun dengan ditemukannya cara perawatan biji dengan metalaksil (Ridomil)  kerugian karena penyakit bulai dapat dikurangi.

Gejala

Penyakit bulai dapat menimbulkan gejala sistemik yang meluas ke seluruh badan tanaman dan dapat menimbulkan gejala lokal (setempat). Ini tergantung dari meluasnya jamur penyebab penyakit di dalam tubuh tanaman yang terinfeksi. Gejala sistemik hanya terjadi bila jamur dari daun yang terinfeksi dapat mencapai titik tumbuh sehingga dapat menginfeksi semua daun yang dibentuk oleh titik tumbuh.

Pada tanaman yang masih muda daun-daun yang baru saja membuka mempunyai bercak klorotis kecil-kecil. Bercak ini berkembang menjadi jalur yang sejajar dengan tulang induk. Di sini jamur penyebeb penyakit berkembang menuju ke pangkal daun. Pada umumnya daun di atas daun yang berbercak itu tidak bergejala. Daun-daun yang berkembang sesudah itu mempumyai daun klorotis merata atau bergaris-garis. Di waktu pagi hari pada sisi bawah daun ini terdapat lapisan beledu putih yangb terdiri dari konidiofor dan konidium jamur.

Karena adanya benang-benang jamur dalam ruang antar selnya, daun-daun tampak kaku, agak menutup dan lebih tegak daripada biasanya. Akar kurang terbentuk, tanamn mudah rebah, sehingga di Jawa Barat penyakit disebut ”hama liyer”, yang berarti “penyakit pusing”.

Tanaman yang terinfeksi pada waktu masih sangat muda biasanya tidak berbebtuk buah. Bila infeksi terjadi pada tanaman yang lebih tua, tanaman dapat tumbuh terus dan membentuk buah. Buah sering mempunyai tangkai yang panjang, dengan kelobot yang tidak menutup pada ujungnya, dan hanya membentuk sedikit biji.

Bila jamur dalam daun yang terinfeksi pertama kali tidak dapat mencapai titik tumbuh, gejala hanya terdapat pada daun-daun yang bersangkutan sebagai garis-garis klorotik, yang disebut juga sebagai gejala lokal.

Seperti yang sebelunya telah dijelaskan, penyakit bulai pada jagung di Minahasa disebabkan oleh jenis jamur yang berbeda dengan yang terdapat di Jawa. Di sini gejala klorotik pada daun cenderung lebih bergaris-garis. Batang sangat kurang memanjang sehingga tanaman sakit sering berbentuk kipas.

Penyebab penyakit

Jamur Peronosclerospora maydis, yang sampai sekarang masih lebih dikenal dengan nama Sclerospora maydis. Semula oleh Racibarski (1897) jamur disebut Peronospora maydis yang oleh Palm diubah menjadi Sclerospora maydis Palm. Seterusnya oleh Butler dan Bisby (1931) jamur disebut Sclerospora maydis Palm, yang menurut van Hoof (1953), sesuai dengan aturan tata nama, nama ini seharusnya Sclerospora maydis Butl.

Shaw menyatakan bahwa sebaliknya diadakan pembeda antara Slerospora yang konidiumnya membentuk zoospora dan yang konidiumnya berkecambah secara langsung dengan membentuk pembuluh kecambah. Kelompok yang terakhir ini dimasukkan ke dalam marga baru, yaitu Peronosclerospora, sehingga Sclerospora maydis sekarang disebut Peronosclerospora maydis Shaw.

Miselium P. Maydis bekembang dalam ruang antarsel. Di sini terdapat dua macam miselium, yaitu uang hifanya banyak bercabang dan membentuk kelompokan-kelompokan di antara tulang-tulang daun, dan hifanya kurang bercabang, menjalar panjang dan menghubungkan kelompokan-kelompokan tadi. Hifa membentuk haustorium yang masuk kedalam rongga sel. Haustorium berbentuk batang, paku, cacing, jari atau gelemmbung.

Pada waktu permukaan daun berembun, miselium membentuk konidiofor yang keluar melalui mulut kulit. Dari satu mulut kulit dapat keluar sayu knidiofor atau lenih. Mula-mula konidiofor berbentuk batang, segera membentuk cabang-cabang dikotom, yang masing-masing cabang membentuk cabang lagi. Pada umumnya konidiofor mempunyai percabangan tingkat tiga atau empat. Cabang tingkat terakhir menbentuk sterigma (tangkai kondium), umumnya dua, yang masing-masing mendukung satu konidium. Pada pangkal sumbu induk konidiofor umumnya terdapat satu sekat tebal yang sempurna atau yang hanya berbentuk cincin. Ada kalanya di sini terlihat lebih dari satu sekat. Panjang konidiofor sangat berfariasi, 200-250 mikrometer, karena agaknya ukuran ini tergantung dari tebal tipisnya lapisan embun pada permukaan daun sakit.

Konidium yang masih muda berbentuk bulat, sedang yang sudah masak dapat menjadi jorong. Konidium berukuran 12-19 x 10-23 mikrometer, dengan rata-rata 19,2 x 17,0 mikrometer. Konidium tumbuh dengan membentuk pembuluh kecambah. Oospora jamur ini belum pernah ditemukan. Di Minahasa penyakit bulai pada jagung di sebabkan oleh Peronosclerospora phillipinensis Shaw (van Hoof, 1953). Jamur mempunyai konidiofor 260-580 mikrometer, dengan konidium 14-55 x 8-20 mikrometer, dengan rata-rata 33,0 x 13,3 mikrometer.

Di berbagai negara penyakit bulai pada jagung disebabkan oleh jenis-jenis Peronosclerospora yangb berbeda. Di Filipina selain P. philipinensis terdapat P. Spontanea Shaw yang mempunyai konidium lebih panjang. Di Thailand penyakit disebabkan oleh P.sorghi Shaw. Jenis ini juga menimbulkan kerugian jagung di Pakistan, India, Afrika, Mexiko dan Amerika Serikat. Diberitakan bahwa P.maydis juga terdapat di Somalia, namun mungkin sebenarnya jamur ini adalah P.sorghi yang umum terdapat di Afrika. Karena jenis-jenis Peronosclerospora mempunyai banyak persamaan satu dengan yang lainnya, Bonde et al dan Micales et al, mencoba membedakan varietas-varietas itu dengan menganalisis isozimnya. Meskipum mempunyai persamaan-persamaan dengan P. Sorghi sacchari dan P. sorghi dari Thailand, P. maydis terbukti mempunyai perbedaan dalam sistem enzim tertentu. P. maydis dari Jawa Barat ternyata mempunyai persamaan dalam susunan enzimnya dengan yeng berasal dari Jawa Timur.

Daur penyakit

P. maydis adalahpatogen biotrof, tidak dapat hidup secara saprofitik selain itu, jamur tidak membentuk oospora. Tidak terdapat tanda bahwa jamur bertahan dalam tanah. Pertahanan baru di bekas pertanaman yang terserang berat dapat sehat sama sekali. Oleh karena itu jamur ini bertahan dari musim ke musim pada tanaman hidup. Sampai sekarang belum ditemukan adanya tumbuhan inang lain dari P.maydis. Pada percobaan infeksi terhadap bermacam-macam tumbuhan diketahui bahwa jamur dapat menginfeksi Euchlaena mexicana (teosinte) dan Tripsacum, namun kedua macam tumbuhan ini tidak terdapat di alam.

Menginagat di daerah pertanian di Indonesia khususnya di Jawa selalu terdapat tanaman jagung, P.maydis selalu dapat bertahan pada tanaman jagung yang hidup. Pada musim kemarau jagung banyak di tanam di sawah, sedang pada musim hujan di tanah tegalan. Pada permulaan musim hujan jagung tegalan yang terletak dekat dengan areal sawah selalu mendapat infeksi paling berat. Jamur dapat terbawa pada biji tanaman sakit. Namun ini hanya terjadi pada biji yang masih muda dan basah, pada varietas jagung yang rentan. Konidium dibentuk pada waktu malam pada waktu berembun, dan konidium segera dipecahkan oleh angin. Oleh karena embun hanya terjadi bila udara tenang, pada umumnya konidium tidak dapt terangkut jauh oleh angin. Konidium segera berkecambah dengan membentuk pembuluh kecambah yang akan mengadakan infeksi pada daun muda dari tanaman muda melaui mulut kulit. Pembuluh kecambah membentuk apresorium di muka mulut kult ini.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit

Penyakit bulai pada jagung terutama terdapat di dataran rendah dan jarang terdapat di tempat-temat yang lebih tinggi dari 900-1.200 m. Ini sesuai dengan penelitian Bustaman dan Kimigafukuro yang membuktikan bahwa konidium berkecambah paling baik pada suhu 300C.

Penyakit lebih banyak terdapat pada jagung musim hujan. Karena jagung musim hujan terutama terdapat di tanah tegalan, maka pada umumnya jagung tegal mendapat serangan yang lebih berat daripada jagung sawah. Jagung yang ditanam lambat akan lebih menderita. Jika pada suhu tanam musim hujan awal datangnya, penyakit bulai akan lebih merata dan lebih merugikan.

Sudjadi meneliti hubungan antara intensitas penyakit dengan tanggal menanam, faktor0faktor cuaca, dan kadar spora. Diketahui bahwa intensitas penyakit mempunyai hubungan erat dengan kombinasi kelembaban nisbi dan suhu. Infeksi terjadi jika hany ada air, baik air hujan, air embun atau air gutasi. Di waktu malam dalam corong daun hujan jagung muda selalu terdapat air gutasi. Air gutasi sangat membantu perkecambahan spora.

Penyakit lebih banyak terdapat pada tanah yang berat. Jagung yang baik pertumbuhannya kurang mendapat gangguan penyakit bulai. Di Jawa Barat banyak terdapat pupuk nitrogen akan menambah kerugian karena penyakit, sedang kalium menguranginya. Namun di Jawa Timur tidak terdapat pengaruh pemupukan dengan beberapa tingkat nitrogen, fosfor dan kalium terhadap intensitas penyakit bulai. Tanaman-tanaman yang tumbuh pada biji yang baik pada umumnya kurang menderita kerugian jika dibandingkan dengan yang tumbuh dari biji yang sudah disimpan lama. Jagung yang ditanam sesudah jagung atau sesudah tebu cenderung menderita kerugian yang lebih besar.

Infeksi sangat ditentukan oleh umur tanaman dan umut daun yang terinfeksi. Tanaman yang berumur lebih dari 3 minggu cukup tahan terhadap infeksi, dan makin muda tanaman makin rentan. Suatu daun dari tanaman muda  sangat menurun kereantanannya 1 minggu sesudah daun berkembang dengan sempurna. Diantara varietas jagunng terdapat perdedaan dalam ketahanannya terhdap penyakit bulai. Sejak tahun 1949 telah dilakukan pengujian ketahanan varietas jagung terhadap penyakit bulai. Varietas yang paling tahan adalah Kodok, Genjah, Warangan, Jawa Tengah Putih, Impa Kimpa, Ngale, Boman dan Calamba. Yang mempunyai ketahanan sedang adalah Jawa Timur Kuning, Manado Kuning dan Maya. Sedang yang sangat rentan adalah Marokko, Minyak Merah, dan St. Croix. Seterusnya varietas Metro dan Harapan terbukti sangat rentan. Genjah Kodok dan Bala-Bala sangat tahan , sedang Harapan dan Bogor Composite sangat rentan.

Varietas-varietas baru yang tahan adalah Pandu, Bogor Composite 2, Harapan Baru, Arjuna, Bromo, Parikesit, Abimayu, Nakula, Wiyasa, Rama, Kalingga, Semas 1 dan Semar 2. Dianara jagung hibrida yang tahan adalah C2,IPB 4, dan CPI 2. Pioneer 3 dan pioneer 5 adalah toleran. C1, Pioneer 1, Pioneer 2 dan CPI 1 agak tahan. P.maydis tumbuk baik dalam ekstrak daun varietas yang rentan.

Pengeloaan penyakit

Untuk mengeendalikan penyakit bukai pada jagung dianjurkan untuk melakikan langkah-langkah berikut ini secara terpadu.

  1. Penenaman varietas tahan

Cara pengendalian yang baik adalah penanaman varietas jagung yang tahan terhadap penyakit bulai yang separti sudah dibahas.

  1. Penanaman awal

Pada permulaan musim hujan jagung tegalan ditanam agak awal secara serentak untuk suatu daerah yang luas, misalnya suatu Wilayah Kerja Pembangunan Petanian (WKPP)

  1. Sanitasi

Segera mencabut tanaman yang menunjukkan gejala penyakit agar tidak menjadi sumber infeksi bagi tanaman disekitarnya, terutama tanaman yang lebih muda.

  1. Perlakuan benih

Benih jagung diobati dengan metalaksil (Ridomil 35 SD) dengan dosis 0,7 g bahan aktif per kg benih.

Penyakit karat jagung

Penyakit karat pada jagung di Indonesia baru menarik perhatian pada tahun 1950-an. Adanya penyakit ini untuk pertama kali ditulis dalam karangan Roelofsen (1956). Menurut Boedjin (1960), penyakit karat jagung sudah terdapat pada bahan yang dikumpulkan oleh van der Goot di Bogor pada tahun 1923 dan oleh Schwarz dari Lembang, Bandung, pada tahun 1925. Jamurnya diidentifikasi sebagai Puccinia sorhgi Schweinitz. Adanaya jamur karat yang keduanpada jagung, P. polysora Undrew., baru dikemukakan oleh Sudjono pada tahun 1985. Jamur ini untuk pertama kali dilaporkan di Amerika pada tahun 1891. Pada tahun 1940 jamur ditemukan di Karibia. Jamur ini dapat melintasi Samudera Atlantik dan pada tahun 1949 Atlantik dan pada tahun 1949 telah terdapat di Sierra Leone, Afrika Barat. Di Afrika penyakit meluas ke timur dan selatan, sehingga pada tahun 1952 dan 1953 P. polysora sudah terdapat di banyak Negara Afriaka bagian Timur sudah terdapat di banyak Negara Afriaka bagian Timur dan Afrika Sealatan. Jamur ini terdapat di Thailand dan Filipins pada tahun 1955. Jamur ini masuk Indonesia pada tahun 1950-an.

P. sorghi dan  P.polisora terdapat di seluruh Indonesia, termasuk Irian Jaya. Kedua jamur karat ini terdapat di Malaysa, Thailand, Filipina, dan Papua Nugini. Bahkan dapat dikatakan bahwa keduanya terdapat di semua Negara penanaman jagung di seluruh dunia, meskipun P. polysora lebih banyak terdapat dateran rendah tropika sehingga sering disebut tropical-rust dan P. sorghi lebih banyak terdapat di pegunungan tropika dan di daerah beriklim sedang.

Gejala

Puccinia polysora membentuk irediosorus bulat atau jorong. Di lapangan kadang-kadang epidermis tetap mempunyai urediosorus sampai matang. Tetapi ada kalanya epidermis pecah dan mass spora dalam jumlah besar menjadi tampak. Setelah terbuaka urediosorus berwarna jingga atau jingga tua. Jamuur membeuntuk banyak urediosorus pada daun dan kadang-kadang pada upih daun. Karena adanya sorus ini permukaan atas daun menjadi kasar. Pada tingkatan yang jauh penyakit karat menyebakan mengeringnya bagian-bagian daun.

Puccinia sorghi membentuk urediosorus panjang atau bulat panjang pada daun. Epidermis pecah sebagian dan massa spora dibebaskan yang menyebabkan urediosorus berwarna coklat atau coklat tua. Urediosorus yang masak berubah menjadi hitam bila teliospora terbentuk.

Penyebab penyakit

Puccinia polysora Undrew membentuk uredium (urediosorus) pada permukaan atas dan bawah daun, dan pada upih daun, tersebar rapat. Uredium bulat atau lonjong, dengan garis tengah 0,2-1 mm, berwarna jingga, epidermis daun yang menutupnya bertahan lama. Urediospora bulat telur sampai bukat telur memanjang, sering kali agak bersudut, 28-38 x 22-30 mikrometer; berdinding agak tebal, derwarna enmas, dengan duri-duri halus yang jarang, tebal 1-2 mikrometer; pori 4-5, ekuatorial. Telium berwarna gelap, tetap tertutup oleh epidermis , bulat, dengan garis tengah 0,2-0,5 mm. teliospora kurang lebih jorong atau berbentuk gada, biasanya tidak teratur atau agak bersudut-sudut, ujungnya tumpul atau terpancung, agak mengecil pada sekat, 35-50 x 16-26 mikrometer. Mesospora (teliospora bersel satu) banyak, dinding coklat kekuningan, halus, 1-1,5 mikroketer di ujungnya; tangkai kuning pucat, panjangnya sampai 30 mikrometer.

Piknidiun dan aesiumjamur ini belum diketahui. P.sorghi Schw dulu disebut P.maydis Ber., P.zeae Ber., dab ini identik dengan Aecidium oxalidis Thuem. Jamur mempunyai banyak uredium (urediosorus) pada kedua sisi daun dan upih daun, rapat atau jarang, tersebar tidak mementu, bulat dengan garis tengah lebih kurang 1mm, atau memenjang lebih kurang 10 mm panjang, berwarna coklatepidermis daun yang menutupnya segera pecah. Urediospora bulat atau jorong, 24-29 x 22-29 mikrometer, berdinding coklat kemerahan, berduri-duri halus, tebal 1,5-2 mikrometre, pori 3-4, ekuatoral. Jamur membentuk telium terbuka, berwarna hitam, di tempat yang sama dengan uredium; biasanya pada waktu tanam menjelanng masak. Teliospora jorong, berbentuk tanbung atau gada, tumpul atau agak meruncing, biasanya agak mengecil pada sekat, 35-50 x 16-23 mikrometer, dengan dinding berwarna coklat,, dipangkalnya agak pucat, halus, tebal, dinding samping 1-1,5 mikrometer, tebal dinding ujung 3-6 mikrometer; tangkai panjang, sampai 80 mikrometer, kuning pucat.

P.sorghi diketahui membentuk piknidium dan aesium pada lebih kurang 30 jenis Oxalis, termasuk O.corniculata. piknium pada kedua sisi daun, mengelompok sampailebih kurang 6 pada suatu tenpat yang garis tengahnya sampai 0,5 mm di pusat bercak. Aesiium hanya pada sisi bawah daun, mengelilingi piknium, pada zone yang lebarnya sampai 2 mm, berebentuk mangkuk, garis tengahnya 0,15-0,2 mm. aesiospora bulat atau jorong, bergaris tengah 12-24 mikrometer, berdinding hialin, berjerawat, tebal 1-2 mikrometer.

Sampai sekarang belum diketahui dengan jelas hubungn antara P.sorghi dengan P.purpurea, penyekit karat pada sorgum, karena keduanya dapat membantuk aesiospora pada Oxalis corniculata.

Daur penyakit

P.polysora mempertahankan diri dari musim ke musim pada tanaman jagung hidup yang selalu terdapat, dan dipencarkan olah urediospora. Spora ini dapat diterbangkan jauh oleh angin dengan tetap hidup, karena kering dan mempunyai dinding yang cukup tebal. Jamur ini mempunnyai dua marga yang mempunyai hubungn dekat dengan jagung, yaitu Euchlaena dan Tripsacum antara lain E.mexicana dan T.laxum. kedua macam tanaman ini pelatif jarang terdapat, sehingga kurang memegang peran dalam pemencaran P.polysora. rumput Guatemala sering di tanam di kebun-kebun the sebagai sumber bahan organic.

Jamur karat tidak dapat hidup sebagai saprofit, sehingga tidak dapat mempertahankan diri pada sisa-sisa tanaman jagung . tidak terdapat bahwa jamur ini mempertahankan diri dalam biji yang dihasilkan pada tanaman sakit. P.sorghi terutama juga mempertahankan diri pada tanaman jagung yang masih hidup, dandipencarkan pada urediospora yang dapat terangkut jarak jauholeh angin dengan tetap hidup. Selain pada jagung, jamur ini telah dijertahui membentuk uredium dan telium pada Euchlaenamexicana.

P.sorghi membentuk piknidium dan aesium pada Oxalis. Namun sampai sekarang peran Oxalis yang abnyak terdapat sebagai gulma di pegunungan dan sering terserang oleh P.sorghi dalam pemencaran penyakit karat pada jagung belum diketahui dengan pasti. Sampai sekarang di Indonesia belum pernah dilakukan percobaan infeksi pada tanaman jagung dengan memekai aesiospora jamur karat Oxalis.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit

P.polysora terutama merugikan di daerah basah di tropika. Urediospora palinh banyak dipoencarkanmenjelang tengah hari. Suhu optimum untuk pekecambahan urediospora adalah 27-280C. pada suhu ini uredium terbentuk 9 hari setelah infeksi. Jamur mengadakan infeksi melalui mulut kulit. Penyekit dipengruhi oleh jenis tanaman jagung. Telah diketahui bahwa kwtahanan terhadap P.polysora ditentukan oleh gen-gen dominan atau dominan yang tidak penuh. P.sorghi terutama terdapat pada suhu yang agak rendah, di daerah pegunungan tropika atau di daerah beriklim sedang. Penyakit ini dibantu oleh suhu 16-230C. urediospora terdapat di udara paling banyak di waktu siang, pada tengah hari dan setelah tengah hari. Infeksi terjadi melalui mulut kulit, pada umumnya dengan pembentukan apresorium.

Ketahanan tanaman jagung terhadap P.sorghi ternyata sangat kompleks, ada yang ditentukan oleh gen dominan, gen dominan yang tidak penuh, tetapi ada juga yang ditentukan oleh gen resesif. Menurut pengujian Sudjono di Bogor diketahui bahwa XCI 47, XCJ 33, TCKUJ 1414,TC arren CI-23-3, Pool 168, dan Arjuna tahan terhadap P.polysora. seterusnya Sudjono menyatakan bahwa jenis Kalingga, Arjuna, Wiyasa, dan Pioner-2 tahan terhdap karat, sedangkan hibrida C1 terbukti rentan.

Pengelolaan

Pada waktu ini jemis-jenis jagung yang ditanam di Indonesia mempunyai ketahanan cukup terhadap penyakit karat, sehingga kedua macam penyakit tersebut dirasa kurang merudikan. Hanya beberapa jenis jagung manis yang akhir-akhir ini dikembangkan di Indonesia kelihatan menderita karena penykit ini. Sampai disini belum ada usaha yang khusus untuk mengelola penyakit karat jagung.

Jika diperlukanpenyakit dapat dikelola denagn penanaman jenis tahan. Diantar varietas unggul yang dianjurkan yang tahan terhadap penyakit kaeat adalah Metro, Kania Putih, Harapan, Harapan Baru, Nakula, Rama, Semar 1dan Semar 2, diantara jagung hibrida C3dan CPI 2 adalah tahan, sedang Pioneer 3, Pioneer 4 dan Pioneer 5 dinyatakan toleran. Di Afrika terdapat banyak jenis tehan dengan ketahanan yang berasal dari jenis-jenis jagung dari Amerika Latin.

Jika diperlukan penyakit karat dapat dikendalikan dengan fungisida, namun oada umumnya tindakan ini dianggap tidak menguntungkan. Diantar fungisida yang telah terbukticukup efektif adalah zineb, oksiklorida tembaga, fermat dan dithane.